Maryam binti Imron

Bismillahirrahman
Allah memberi gambaran ketauladanan seorang muslimah seharusnya, seperti apa melalui kisah Maryam. Melalui kisah Maryam, seorang akhwat akan belajar:
Bagaimana menjaga kesucian diri melalui iffah yang TEPAT.
Bagaimana menjadi muslimah tangguh.
Bagaimana menjadi muslimah yang ta’at.
Bagaimana seorang muslimah memiliki ketsiqahan kepada Allah atas setiap masalah yang dihadapi.

Kalo seandainya akhwat bertemu dengan seorang ikhwan yang sangat tampan (sempurnalah akhlaq dan penampilannya) kira-kira respon pertama yang terucap apa baik yang dalam hati maupun ekspresinya?
Hayo langsung jawab…
Jangan difikir-fikir jawabannya….
Kalo mo lihat jawaban fitrah ya jawaban yang terlontar pertama kali itu…

“Subhanallah….”atau “ mungkin ada juga yang bilang, cakep juga yach… trus diliatin mulu..

Namun, bagaimana jawaban seorang Maryam yang telah ditarbiyah Allah SWT melalui Zakariya a.s.?

Dan jawaban ini jauh lebih dahsyat lagi karena ana gak masukin sikon seandainya akhwat itu adalah akhwat atau cewek pingitan yang sangat-sangat jarang sekali melihat lelaki (mis. wanita pesantren khusus wanita atau penjara khusus wanita) tiba tiba kedatangan pria yang sangat tampan kira-kira gimana responnya? So…pasti lebih heboh khan…??
Nah kita lihat sekarang jawaban Maryam, jawaban seorang hamba Allah yang telah dididik dengan baik oleh Zakariya a.s. dan keluarganya Imran dengan baik, jawaban wanita suci yang Allah persiapkan untuk melahirkan seorang calon Nabi. Ketika Jibril datang menghampiri Maryam dalam keadaan manusia yang sempurna (artinya Jibril datang dalam keadaan sebaik-baiknya manusia dalam arti ketampanan kerapihan, maupun tuturkata yang sangat lembut) di ruang pingitan Maryam untuk menyampaikan wahyu ilahi maka Maryam Berkata:

“qa lat inni a’udzu birrahmani minka inkunta taqiyya”

Artinya Maka Berkatalah Maryam: Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada yang Maha Pengasih, jika kamu seorang yang bertaqwa…

Lihat-lah akan respon Maryam yang begitu lembut dan memahami bagaimana memelihara iffah dirinya.  Maryam memahami betul ketika melihat pria sempurna tersebut maka muncullah rasa takut dalam dirinya (inilah kenapa ada kata taqwa yg artinya perasaan takut kepada Allah terlibat dalam ayat tersebut), bukan rasa kagum dsb, namun justru perasaan takut akan terjerumus kedalam jurang maksiat setelah selama  ini beruzlah mensucikan diri.

Maryam tidak hanya muncul takut atas ma’shiyat, tapi atas kenikmatan dan keindahan yang Rabb-nya telah berikan kepada dirinya.  Maryam begitu menjaga dirinya (iffah) tidak hanya atas makshiyat tetapi juga dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan ma’shiyat dalam dirinya. Hanyalah orang-orang yang bertaqwa sajalah yang mampu mendeteksi hal-hal yang berpotensi menimbulkan kema’shiyatan jauh melebihi kebanyakan orang lain.
Inilah iffah yang sesungguhnya bukanlah iffah yang dibuat-buat dengan penampilan maupun intonasi suara melainkan melalui respon awal terhadap potensi-potensi kema’shiyatan yang hadir di hadapannya. wallahua’lamu kenapa Allah menggunakan fi’lul madhi (past tense) dalam menggambarkan statement Maryam (dia telah berkata), mungkin gambaran muslimah shalehah seperti Maryam memang sangat langka terjadi.

Allah lebih mengetahui kadar-kadar kejujuran hati kita dalam merespon setiap keadaan yang muncul dihadapan kita…
masya Allah, wa nastaghfirullahal adziim..  Semoga para ukhti fillah sentiasa mendapat bimbingan dari Allah SWT tuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai iffah dengan tepat dan baik.. Wallahua’lamu bish showwab…

Ya Allah aku memang belum menjadi muslim/muslimah yang seharusnya kuatkanlah aku untuk mampu Kaffah dalam beragama

Berbahagialah wahai para ikhwan yang mendapatkan akhwat yang mau menjadi istri kedua setelah islam menjadi istri pertama, berbanggalah wahai para akhwat karena dari rahim kalianlah akan lahir generasi2 terbaik….

Sumber: http://forum.dudung.net/index.php?topic=2625.0 Dengan sedikit perubahan

 

==============================================

Maryam yang disebut-sebut dalam kisah Zakaria adalah anak tunggal dari Imran seorang daripada pemuka-pemuka dam ulama Bani Isra’il. Ibunya saudara ipar dari Nabi Zakaria adalah seorang perempuan yang mandul yang sejak bersuamikan Imran belum merasa berbahagia jika belum memperoleh anak. Ia merasa hidup tanpa anak adalah sunyi dan membosankan. Ia sangat mendambakan keturunan untuk menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan bersuami-isteri, penglipur duka dan pembawa suka di dalam kehidupan keluarga. Ia sangat akan keturunan sehingga bila ia melihat seorang ibu menggandung bayinya atau burung memberi makan kepada anaknya, ia merasa iri hati dan terus menjadikan kenangan yang tak kunjung lepas dari ingatannya.

Tahun demi tahun berlalu, usia makin hari makin lanjut, namun keinginan tetap tinggal keinginan dan idam-idaman tetap tidak menjelma menjadi kenyataan. Berbagai cara dicubanya dan berbagai nasihat dan petunjuk orang diterapkannya, namun belum juga membawa hasil. Dan setelah segala daya upaya yang bersumber dari kepandaian dan kekuasaan manusia tidak membawa buah yang diharapkan, sedarlah isteri Imran bahawa hanya Allah tempat satu-satunya yang berkuasa memenuhi keinginannya dan sanggup mengaruniainya dengan seorang anak yang didambakan walaupun rambutnya sudah beruban dan usianya sudah lanjut. Maka ia bertekad membulatkan harapannya hanya kepada Allah bersujud siang dan malam dengan penuh khusyuk dan kerendahan hati bernadzar dan berjanji kepada Allah bila permohonannya dikalbulkan, akan menyerahkan dan menghibahkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan, penjaga dan memelihara rumah suci itu dan sesekali tidak akan mengambil manfaat dari anaknya untuk kepentingan dirinya atau kepentingan keluarganya.

Harapan isteri Imran yang dibulatkan kepada Allah tidak tersia-sia. Allah telah menerima permohonannya dan mempersembahkan doanya sesuai dengan apa yang telah disuratkan dalam takdir-Nya bahwa dari suami isteri Imran akan diturunkan seorang nabi besar. Maka tanda-tanda permulaan kehamilan yang dirasakan oleh setiap perempuan yang mengandung tampak pada isteri Imran yang lama kelamaan merasa gerakan janin di dalam perutnya yang makin membesar. Alangkah bahagia si isteri yang sedang hamil itu, bahawa idamannya itu akan menjadi kenyataan dan kesunyian rumah tangganya akan terpecahlah bila bayi yang dikandungkan itu lahir. Ia bersama suami mulai merancang apa yang akan diberikan kepada bayi yang akan datang itu. Jika mereka sedang duduk berduaan tidak ada yang diperbincangkan selain soal bayi yang akan dilahirkan. Suasana suram sedih yang selalu meliputi rumah tangga Imran berbalik menjadi riang gembira, wajah sepasang suami isteri Imran menjadi berseri-seri tanda suka cita dan bahagia dan rasa putus asa yang mencekam hati mereka berdua berbalik menjadi rasa penuh harapan akan hari kemudian yang baik dan cemerlang.

Akan tetapi sangat benarlah kata mutiara yang berbunyi: “Manusia merancang, Tuhan menentukan.” Imran yang sangat dicintai dan sayangi oleh isterinya dan diharapkan akan menerima putera pertamanya serta mendampinginya dikala ia melahirkan, tiba-tiba direnggut nyawanya oleh Izra’il dan meninggallah isterinya seorang diri dalam keadaan hamil tua, pada saat mana biasanya rasa cinta kasih sayang antara suami isteri menjadi makin mesra.

Rasa sedih yang ditinggalkan oleh suami yang disayangi bercampur dengan rasa sakit dan letih yang didahului kelahiran si bayi, menimpa isteri Imran di saat-saat dekatnya masa melahirkan. Maka setelah segala persiapan untuk menyambut kedatangan bayi telah dilakukan dengan sempurna lahirlah ia dari kandungan ibunya yang malang menghirup udara bebas. Agak kecewalah si ibu janda Imran setelah mengetahui bahawa bayi yang lahir itu adalah seorang puteri sedangkan ia menanti seorang putera yang telah dijanjikan dan bernadzar untuk dihibahkan kepada Baitulmaqdis. Dengan nada kecewa dan suara sedih berucaplah ia seraya menghadapkan wajahnya ke atas: “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang puteri, sedangkan aku bernadzar akan menyerahkan seorang putera yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitulmaqdis. Allah akan mendidik puterinya itu dengan pendidikan yang baik dan akan menjadikan Zakaria, iparnya dan bapa saudara Maryam sebagai pengawas dan pemeliharanya.”

Demikianlah maka tatkala Maryam diserahkan oleh ibunya kepada pengurus Baitulmaqdis, para rahib berebutan masing-masing ingin ditunjuk sebagai wali yang bertanggungjawab atas pengawasan dan pemeliharaan Maryam. Dan karena tidak ada yang mau mengalah, maka terpaksalah diundi diantara mereka yang akhirnya undian jatuh kepada Zakaria sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada ibunya.

Tindakan pertama yang diambil oleh Zakaria sebagai petugas yang diwajibkan menjaga keselamatan Maryam ialah menjauhkannya dari keramaian sekeliling dan dari jangkauan para pengunjung yang tiada henti-hentinya berdatangan ingin melihat dan menjenguknya. Ia ditempatkan oleh Zakaria di sebuah kamar diatas loteng Baitulmaqdis yang tinggi yang tidak dapat dicapai melainkan dengan menggunakan sebuah tangga.Zakarian merasa bangga dan bahagia beruntung memenangkan undian memperolehi tugas mengawasi dan memelihara Maryam secara sah adalah anak saudaranya sendiri. Ia mencurahkan cinta dan kasih sayangnya sepenuhnya kepada Maryam untuk menggantikan anak kandungnya yang tidak kunjung datang. Tiap ada kesempatan ia datang menjenguknya, melihat keadaannya, mengurus keperluannya dan menyediakan segala sesuatu yang membawa ketenangan dan kegembiraan baginya. Tidak satu hari pun Zakaria pernah meninggalkan tugasnya menjenguk Maryam.

Rasa cinta dan kasih sayang Zakaria terhadap Maryam sebagai anak saudara isterinya yang ditinggalkan ayahnya meningkat menjadi rasa hormat dan takzim tatkala terjadi suatu peristiwa yang menandakan bahawa Maryam bukanlah gadis biasa sebagaimana gadis-gadis yang lain, tetapi ia adalah wanita pilihan Allah untuk suatu kedudukan dan peranan besar di kemudian hari.

Pada suatu hari tatkala Zakaria datang sebagaimana biasa, mengunjungi Maryam, ia mendapatinya lagi berada di mihrabnya tenggelam dalam ibadah berzikir dan bersujud kepada Allah. Ia terperanjat ketika pandangan matanya menangkap hidangan makanan berupa buah-buahan musim panas terletak di depan Maryam yang lagi bersujud. Ia lalu bertanya dalam hatinya, dari manakah gerangan buah-buahan itu datang, padahal mereka masih lagi berada pada musim dingin dan setahu Zakaria tidak seorang pun selain dari dirinya yang datang mengunjungi Maryam. Maka ditegurlah Maryam tatkala setelah selesai ia bersujud dan mengangkat kepala: “Wahai Maryam, dari manakah engkau memperolehi rezeki ini, padahal tidak seorang pun mengunjungimu dan tidak pula engkau pernah meninggalkan mihrabmu? Selain itu buah-buahan ini adalah buah-buahan musim panas yang tidak dapat dibeli di pasar dalam musim dingin ini.”

Maryam menjawab: “Inilah pemberian Allah kepadaku tanpa aku berusaha atau minta. Dan mengapa engkau merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah Yang Maha Berkuasa memberikan rezekinya kepada sesiapa yang Dia kehendaki dalam bilangan yang tidak ternilai besarnya?”
Demikianlah Allah telah memberikan tanda pertamanya sebagai mukjizat bagi Maryam, gadis suci, yang dipersiapkan oleh-Nya untuk melahirkan seorang nabi besar yang bernama Isa AS

Kisah lahirnya Maryam dan pemeliharaan Zakaria kepadanya dapat dibaca dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35 hingga 37 dan 42 hingga 44.

Sumber: http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/21/maryam-binti-imran/

One Response to Maryam binti Imron

  1. wika prima

    terus terang saya ngefans bangetv sama Maryam. hmmm mbak maryam smg kelak bisa bertemu. nice post
    wikaprima.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s