
Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah
Asy Syariah, Vol V/ No 59/1431 H/2010
*dengan perubahan*
Siapa yang tak berbahagia menanti hari pertemuan dengan calon teman hidup yang telah dipilih. Saat dijalinnya ijab qabul di hari pernikahan nan bahagia. Serasa hati berbunga-bunga ibarat taman yang sarat dengan kembang bermekaran. Tersimpanlah sejuta asa kan merajut hari-hari nan indah, menjalin benang-benang inta, mewujudkan mahligai yang penuh sakinah, mawaddah dan rahmah. Tersembul ikrar dalam kalbu kan membahagiakan pasangan terkasih.
Kemudian dilaluilah hari-hari setelah perjanjian suci di hadapan Allah dan para hambaNya yang menjadi saksi.
Bulan-bulan pasca pernikahan lewatlah sudah. Namun kemanakah semua impian itu? Mana kebahagian yang didamba?
Seiring dengan berjalannya waktu muncullah perasaan kecewa dan bisa jadi ada sesal. Muncul pertanyaan di dada sang suami “Kok istriku seperti ini? Suka bikin kesal, gak pandai berperan sebagai istri…”
Si istri pun penuh tanya, “Ternyata suamiku tak seperti yang kubayangkan dan kuimpikan. Ternyata dia cuma seperti ini. Suka marah, emosional, terlalu banyak tuntutan, dan sebagainya dan sebagainya.”
Atau muncul pernyataan, “Aduh…Ternyata begini ya rasanya berumah tangga, tak seindah dalam bayangan…”
Ya, selain ada yang menemukan kebahagiannya dengan menikah dan hidup bersama pasangannya ada pula yang mengalami kekecewaan. Yang kecewa dalam kehidupan rumah tangganya bisa jadi rumah tangganya tetap bertahan namun dengan himpitan rasa tak nyaman. Ada pula yang berujung dengan perceraian.
Lalu, kenapa semua bisa terjadi?
Siapakah yang bersalah dengan hal ini, si suamikah atau istri, ataukah kedua-duanya?
Ya… Kesalahan bisa datang dari pihak mana saja. Namun perlu ditinjau ulang sebagai pelajaran bagi yang belum melangkah, bagaimanakah cara si lelaki menjatuhkan pilihan kepada wanita yang hendak diperistrinya? Begitu pula si wanita. Apakah mereka mendahulukan sisi agama pasangan hidupnya? Yakni wanita shalihah karena seperti kata Rasulullah:
“Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalilah” (HR Muslim no 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul ‘Ash)
Rasul pun memberi bimbingan:
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agamnya. Maka utamakanlah wanita yang memiliki agama. (Bila tidak) taribat yadak (celaka kedua tanganmu) (HR Al Bukhari no 5090 dan Muslim no 3620 dari Abu Hurairah)
Apakah si wanita juga telah tepat menerima pinangan yang ditujukan kepadanya? Adakah lelaki tersebut seorang yang shalih, bagus agamanya dan baik akhlaqnya? Kerena kriteria lelaki seperti inilah yang tidak pantas ditolak bila si wanita merasa ada kecocokan. Bila tidak, maka akan terjadi seperti kata Rasulullah yang ditujukan kepada para wali wanita:
“Apabila orang yang kalian ridhai agama dan akhlaqnya meminang wanita kalian kepada kalian, maka nikahkanlah dia (dengan wanita kalian). Kalai tidak kalian lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merata” (HR At-Tirmidzi ni 1084 dari Abu Hurairah, dihasankan dalah Al Irwa no 1868, Ash Shahih no 1022 dan Al Misykat no 2579)
Bila kesalihan pasangan memang merupakan pilihan saat memasuki jenjang pernikahana, artinya si lelaku telah memilih wanita yang menurutnya shalihah sebagai istrinya dan si wanita telah memilih lelaki yang dipandangnya shalih sebagai pasangannya sehingga menikahlah lelaki yang shalih dengan wanita yang yang shalihah tersebut. Tapi kok tetap menyisakan kekecewaan dalam menjalani hari-hari setelah lewat masa pengantin baru, dan tetap ada hempasan gelombang saat mengayuh bahtera rumah tangga. Bagaimanakah dengan kenyataan ini?
Pertama, kita ingatkan agar seorang wanita ataupun seorang lelaki yang ingin menikah agar tidak mengangankan terlalu muluk tentang pasangannya Membayangkan calon istrinya seperti bidadari surga yang sempurna, atau calon suaminya seperti malaikat yang mulia.
Mengimpikan seluruh perangan kebaikan terkumpul pada sangan calin hanya akan berujung kekecewaan. Karena seperti kata papatah: tak ada gading yang tak retak: tak ada manusia yang sempurna. Rasulullah pernah bersabda:
“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekot tersebut engkau tidak dapatkan satu ekorpun yang bagus untuk ditunggangi” (HR Al Bukhari no 6498 dan Muslim no 2547)
Maksud hadist diatas, kata Al Imam Al Khaththabi, “Mayoritas manusia memiliki kekurangan, Adapun orang yang punya keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Maka mereka yang sedikit itu seperti keberandaan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban (Fathul Bari, II/343)
Oleh karena itu hendaknya seorang suami atau seroang istri menyadari bawa ia menikah dengan anak manusia. Sebagaimana ia manusia yang punya banyak kekurangan maka demikian pula teman hidupnya. Selama masalahnya bukan suatu yang prinsip, maka hendaknya masing-masingnya bersabar dengan apa yang dijumpai dari kekurangan pasangannya.
Kedua, jangan membayakan rumah tangga itu tanpa problema, karena rumah tangga tanpa problema hanya ada disurga kelak.
Adapun rumah tangga di dunia pasti ada kisah suka dukanya, kisah lapang dan sempitnya, cerita penuh tawa dan derai air mata. Maka persiapkanlah diri untuk kehidupan orang dewasa. Senang susah sama ditanggung, suka duka dijadikan ibarat bumbu dalam pernikahan.
Ketiga, kuranganya bekal ilmu dalam menghadapi pernikahan juga menjadi sebab munculnya berbagai maslah rumah tangga dan tumpulan kekecewaan di belakang hari.
Seorang istri tidak tahu apa saja hak suami yang harus ditunaikannya. Dia tidak paham bagaimana kadar dan tingginya kedudukan suami atas dirinya. Sebaliknya, seorang suami tidak mengerti kewajibannya sebagai qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga, tidak menaruh perhatian terhadap hak-hak istri. Singkat kata, mereka tidak paham tuntutan Islam dan bimbingan Rasul dalam berkeluarga, sehingga hasungan “berilmu sebelum beramal” perlu menjadi perhatian.
Semangat mencari dan belajar ilmu syari’i perlu ditumbuhsuburkan di tengah keluarga. Suami harus cinta terhadap ilmu dan mengupayakan istrinya pun cinta terhadap ilmu. Suami istri perlu membaca bagaimana kehidupan rumah tangga Tasul yang termaktub dalam kitab-kitab ilmu, bagaimana sosok Rasul sebagai suami teladan dan indaknya pergaulan dalam rumah tangga beliau. Termasuk yang perlu diketahui oleh pasangan suami istri adalah hadits-hadist nabawiyah yang harum semerbak tentang pergaulan suami-istri….


